Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Desi Bagian 1

Desi Side 1

Gila!!! Gila!!! Gila!!!

Desi bagian 1

Ini benar-benar gila!

Bagaimana bisa pria itu muncul kembali?

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?

Ini sudah tiga hari semenjak kemunculannya kembali dan memporak-poranda kan hatiku seperti angin puting beliung.

Memang sih sampai saat ini dia belum muncul lagi di hadapanku.

Tapi aku tidak bisa bayangkan jika nanti tiba-tiba dia datang lagi dan memberikan bukti jika anakku adalah anaknya.

Anakku adalah anaknya?

Ya ampun, kenapa ucapanku ini malah seperti sebuah judul film sih!!

Gama oh Gama!!

Kepalaku pusing seketika melihat wajahnya lagi.

Wajah yang sudah menghilang dari pandangan lima tahun yang lalu.

Wajah yang selalu tersimpan rapat di sudut hatiku terdalam.

Kini wajah itu kembali lagi, dengan lebih menawan dari pada dulu.

Wajah yang sama persis dengan wajah anakku..

Ya

Anakku..

Anggara Gamalio..

Astaga, dengan melihat wajahnya saja pasti semua orang tahu kalau Gara adalah anak Gama Arya Handoko.

Kakak kelas Most Wanted di SMA ku dulu.

Cinta pertamaku yang membuat aku gila dan bertindak bodoh tanpa memikirkan norma agama.

Ya..

Aku menyerahkan kesucianku padanya.

Hanya padanya dan sampai saat ini tidak ada seorang pria pun yang menyentuhku lagi setelah dirinya.

Malam itu..

Malam dimana hari terakhirku menjadi seorang perawan.

Gadis kutu buku bodoh menyerahkan hati dan keperawanannya pada ketua OSIS tampan.

*Flashback lima tahun lalu*

"kamu yakin mau ngelakuin sama aku?" tanya seorang pemuda meyakinkan seorang remaja wanita yang memakai kacamata dengan rambut panjang dikepang itu.

"ya-ya-yakin lah kak.. Lagian ini bukan pertama kali aku lakuin ini.." bohong gadis polos itu.

"kamu beneran bukan perawan kan?? Kamu tau, aku gak bisa dan gak mau ngelakuin hal ini sama perawan. Itu merepotkan. Dan aku adalah pria yang bebas tanpa ikatan yah.. Kecuali dengan pacarku. KINANTI.. kamu tau kan? "

Ucap pemuda itu serius sambil menekankan satu nama yang langsung di angguki oleh gadis polos di depannya itu.

" aku tahu kak.. Kalau kakak cuma cinta sama pacar kak Gama. Aku.. Aku cuma mau rasain gimana servis yang kak Gama berikan sama cewek-cewek yang biasa cerita gimana hebatnya kak Gama di ranjang" ucap Gadis itu dengan rona merah menahan malu atas ucapannya sendiri.

'aku cuma mau jadiin kakak jadi yang pertama jamah aku. Aku cinta kamu kak Gama.. Sangat..' ucap gadis itu dalam hati.

Gama tersenyum miring mendengar ucapan gadis yang terlihat polos namun ternyata sama seperti jalang-jalang yang ditidurinya.

Servis??

Memang Gama sehebat itu sih!

Ini semua gara-gara ajaran kakak kelas Gama, kekasih pertama yang membuat Gama melepaskan keperjakaannya dan kecanduan dengan hal yang berbau sex.

"ok kalau gitu! Kita masuk sekarang, Hon.. Dan aku akan tunjukkan servis yang gak bakal bisa kamu dapati dari cowok-cowok lain" ucap Gama percaya diri sambil menggenggam tangan gadis itu menuju hotel murah yang tidak harus menggunakan KTP untuk masuk kesana.

Gama merasakan tangan dingin dalam genggamannya dan mengernyitkan alis curiga.

"tangan kamu dingin, beneran kan ini bukan yang pertama buat kamu?" tanya Gama meyakinkan sebelum mereka check in.

"aku.. Aku.. Cuma gugup kak. Soalnya.. Ng.. Ng.. Biasanya yang tidur sama aku gak ada yang seganteng kakak jadi..jadi aku gugup.. " ucap gadis itu sambil tersenyum manis yang membuat Gama terpaku sesaat melihat senyum manis yang baru di perlihatkan adik kelasnya yang terkenal polos dan cupu ini.

" oh.. Ok kalau gitu. " Gama berusaha melegakan tenggorokannya karena sempat terpaku oleh senyum manis yang diperlihatkan adik kelasnya itu " Kita akan melewati malam yang gak akan bisa kamu lupakan, Hon.. "bisik Gama mesra sambil menggigit kecil cuping telinga Desi yang membuat darah Desi berdesir hebat.

Setelah beberapa saat mereka telah sampai di salah satu kamar hotel standar itu.

Desi mengedarkan pandangan ke kamar ini, kamar yang dengan pencahayaan seadanya walaupun ranjang yang tersedia lumayan besar.

" kita cuma bisa nginap disini, soalnya kalau di hotel bintang lima yang ada kita kena grebek dan aku gak suka harus repot walaupun orang tuaku bisa bantu kita. Tapi aku beneran gak mau hidupku keganggu sama hal-hal kayak gitu."

"eng.. Gak papa kok kak"ucap Desi gugup.

'ya ampun.. Apa aku siap?? Apa ini yang dinamakan cinta buta? Sampai aku segila ini mau ngelakuin hal itu sama orang yang aku cintai?' Desi bertanya-tanya dalam hati.

" Des??"

" ha?? Eh.. Iya kak. Ada apa? "

" aku tanya sama kamu, kapan pertama kamu lakuin ini? Kamu kan baru kelas 1 SMA, apa kamu udah lakuin" itu" pas SMP? "

Pertanyaan tiba-tiba Gama dengan tangan membentuk tanda kutip yang membuat wajah Desi pias.

' ini yg pertama kak..' lirih Desi dalam hati.

Gama memperhatikan wajah Desi lalu berdecak cuek.

" yaudah gak usah kamu jawab. Gak penting juga pertanyaannya. Sekarang.. Hanya ada kita berdua di ruangan ini, Sayang.." ucap Gama mesra setelah menyentak pinggang Desi menuju kearahnya.

Desi menegang ketika Gama merapatkan tubuh mereka.

Gama membuka kacamata yang selalu dikenakan Desi dan meletakkannya di meja samping ranjang.

Setelah itu memeluk Desi untuk membuka kepangan rambut gadis polos itu.

Setelah selesai membebaskan kepangan rambut Desi, Gama melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Desi.

Gama menegang melihat wajah Desi yang sebenarnya.

Wajah cantik tanpa riasan dan tanpa kacamata sialan yang menyamarkan wajah cantik itu.

Apalagi mata wanita itu yang seakan menyihirnya.

'sial!!! Ternyata ni cewek berlian di tumpukan kotoran!! Kayaknya gw harus berterima kasih sama keberuntungan yang selalu gw punya. Gw bisa nikmatin tubuh cewek cantik ini' ucap Gama dalam hati sambil menatap mata Desi dalam.

Sementara Desi menelan ludahnya gugup tanpa mampu menatap Gama.

Jantungnya berdetak kencang.

Sangat kencang seolah-olah akan keluar dari tubuhnya.

Desi menggigit bibir bawahnya gugup dan tersentak ketika Gama mencium bibirnya dengan lahap.

"jangan digigit sayang.. Biar bibir ini jadi milikku untuk malam ini"

Setelah mengucapkan itu, Gama kembali mencium rakus bibir Desi yang hanya bisa terpaku.

"balas.. Ciuman..ku..Honey.. "bisik Gama terengah lalu kembali mencium bibir Desi.

Desi memejamkan matanya dan membalas ciuman Gama.

Desi membalas ciuman Gama dengan kaku yang sempat membuat Gama curiga, namun langsung ditepis Gama.

Mungkin saja Desi sudah lama tidak berciuman sehingga menjadi kaku.

Namun entah mengapa pergerakan bibir Desi yang kaku malah membuat Gama semakin bersemangat dan tanpa henti melumat bibir penuh wanita ayu ini.

Gama perlahan membaringkan Desi di ranjang murahan ini tanpa menghentikan serangan bibirnya.

Desi mendesah di sela ciuman mereka karena tangan Gama sudah bergerilya menuju gundukan payudaranya.

Ini pertama kalinya Desi merasakan sensasi yang membuatnya bergetar hebat karena sentuhan pria pertama yang menyentuhnya.

Desahan yang keluar dari bibir Desi semakin membuat Gama tidak bisa mengendalikan nafsunya.

Gama melepas kancing kemeja sekolah Desi dengan terburu-buru sambil menghisap leher Desi rakus yang mana membuat Desi meringis sakit sekaligus nikmat.

"wangi kamu.. Benar-benar menggoda, Des..Lily eh?" tanya Gama yang sudah berhasil melepas kemeja sekolah Desi yang teronggok di lantai.

Suasana kamar yang remang membuat Desi berhasil menyembunyikan semburat merah karena ucapan Gama.

Desi yang hanya menggunakan tank top berwarna putih mengalihkan pandangan ketika Gama menatapnya lapar sambil membuka kemejanya sendiri.

"hey.. Look at me..and touch me.. "

Gama menarik tangan Desi dan meletakkannya di perut berotot Gama yang sudah tidak terhalang apapun lagi.

Desi tersentak namun tanpa sadar mengelus perut Gama lembut yang mana membuat Gama memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut nan menggoda jemari Desi.

"yes.. Touch me as much as you want.." bisik Gama parau.

Desi tanpa sadar meraba bagian bawah Gama yang sudah menegang yang hanya tertutup boxer.

Gama terkejut dan menahan pergelangan tangan Desi.

"dasar penggoda.. Kamu udah buat aku gak sabar, Hon.."

Setelah mengatakan itu, Gama kembali menyerang Desi.

Membelai, mencumbu, menghisap dan perlahan membuka seluruh pakaian yang tersisa di tubuh Desi dan tubuhnya sendiri.

Desi terhanyut dalam permainan Gama sampai tanpa sadar Gama sudah memposisikan 'miliknya' menuju 'milik' Desi.

"ready, Hon?" tanya Gama mesra, namun Desi tidak mendengarkan karena masih terhanyut permainan tangan Gama di salah satu payudaranya.

Gama mengartikan diamnya Desi sebagai kesiapan wanita itu.

Lalu setelahnya Gama menyentak kasar 'miliknya' untuk masuk ke dalam 'milik' Desi.

Desi berteriak frustasi karena rasa sakit luar biasa di bagian intinya yang membuat Gama menegang seketika.

"kamu??" tanya Gama terkejut.

"shit!!! Kamu bohong!!! Kamu masih??? Sialan kamu Desi!!" ucap Gama frustasi karena merasakan 'miliknya' semakin menegang karena mencoba menembus penghalang yang sepertinya sudah hampir sobek.

Gama hendak beranjak pergi dari atas tubuh Desi, namun langsung ditahan oleh gadis ayu itu.

" tolong.. Lanjutkan kak.. Ini sakit sekali.. " ucap Desi menitikkan air matanya.

"tapi kamu masih perawan?!!!!! Apa kamu sudah gila!??" Gama berteriak frustasi di depan wajah Desi.

"sekarang udah nggak kak.. Tolong.. Dilanjutkan.. Sudah terlambat.. Untuk mundur" bisik Desi parau dengan air mata yang masih mengalir deras.

"brengsek!! Kamu mau jerat aku ya?!" tuduh Gama marah.

Desi menggeleng panik.

"enggak-enggak!!! Desi gak ada niat jerat kak Gama!! Desi janji setelah ini gak akan ngejar kak Gama lagi. Desi Janji!!!" ucap Desi bersungguh-sungguh.

Gama menjatuhkan kepalanya frustasi di samping bahu telanjang Desi.

Ini pertama kalinya bagi Gama meniduri gadis perawan dan itu membuat Gama terpukul setengah mati.

Seharusnya janjinya pada diri sendiri bisa terpenuhi, untuk tidak merusak wanita baik-baik.

Tapi malam ini sepertinya janji yang dijaganya selama ini harus hancur berantakan karena wanita yang'sialan cantik' di bawahnya ini!

Tapi benar kata Desi, dia tidak bisa mundur lagi, karena setengah 'miliknya' sudah masuk ke dalam 'milik' Desi.

Berhenti atau tidak hasilnya akan sama saja.

Desi..

Sudah..

Tidak..

Perawan lagi..

Akhirnya dengan sekali hentakan, 'milik' Gama benar-benar masuk kedalam 'milik' Desi.

Gama berteriak nikmat karena miliknya terhisap kencang di dalam 'milik' Desi yang memang masih sangat sempit.

Sementara Desi merasakan sakit yang luar biasa sampai seolah-olah tulangnya akan remuk karena merasakan sensasi ini untuk pertama kalinya.

Desi menggigit bibirnya kencang untuk meredam teriakannya karena tidak ingin Gama merasa bersalah.

Air mata tak bisa dibendung Desi.

Gama yang melihat wajah tersiksa Desi, langsung membungkam bibir Desi dengan bibirnya agar rasa sakit yang Desi rasakan bisa teralihkan.

"ini.. Cuma sakit sebentar.. Hon.. Setelah itu kita akan menuju ke surga.." bisik Gama parau lalu mencium bibir Desi kembali.

Gama memaju mundurkan 'miliknya' ke dalam 'milik' Desi perlahan agar Desi terbiasa.

Setelah beberapa lama, Desi baru merasakan kenikmatan yang dijanjikan Gama.

Mereka melakukan itu secara alami.

Saling menghentak, saling memuaskan.

"your.. So.. Delicious.. Hon.. Sempit.. Hangat dan.. Menggairahkan.." ucap Gama sambil melesakkan 'miliknya' maju mundur yang membuat Desi semakin terbuai dalam pusara kenikmatan yang berbalur dengan dosa.

Mereka melakukannya berkali-kali sampai akhirnya Desi tumbang dan tak sanggup lagi membuka matanya karena lelah.

Napas Desi teratur dengan posisi bibir setengah terbuka yang membuat Gama kembali merasakan miliknya menegang.

"perawan sialan!!! Buat gw ON berkali-kali, arrgghhh!!"desis Gama frustasi dan setelahnya beranjak menuju kamar mandi untuk meredakan nafsunya yang kembali bangkit.

Setelah satu jam mendinginkan otaknya, Gama bergabung dengan Desi untuk meng istirahatkan badannya yang terasa segar dan letih secara bersamaan.

Gama memeluk Desi erat, setelah memakaikan selimut ke tubuh perawan pertamanya itu agar tak tergiur kembali dengan tubuh Desi yang menggoda.

"good night my first and only virgin.. Aku rasa setelah ini aku tidak akan lagi bermain dengan perawan, walaupun itu sangat menggiurkan. Kamu.. Perawan satu-satunya yang aku tiduri.. Hon... " bisik Gama mesra lalu setelahnya mencium bahu telanjang Desi.

"sialan kamu Des!! Lagi-lagi buat 'milikku' bangun hanya dengan mencium bahumu. Please go to sleep.. Daddy gak mau mandi lagi!" ucap Gama pada 'miliknya' lalu memaksakan diri menutup mata menyusul Desi yang sudah lebih dulu ke alam mimpi.

Paginya Desi bangun terlebih dahulu dan merasakan napas teratur di tengkuknya.

Desi melihat perutnya di peluk erat oleh pemuda itu.

Gama Arya Handoko..

Si pemuda pertama yang 'memasukinya'..

Si pemuda yang sudah menjadi cinta pertamanya dari SMP karena Desi ternyata adalah adik kelas Gama di SMP yang sama.

Desi bersekolah di sekolah SMA Gama karena mengikuti pria itu.

Katakan Desi gila.

Dan

Buta!

Buta karena dengan beraninya memberikan 'mahkota' berharganya.

Tapi entah mengapa Desi tidak merasa menyesal karena ini adalah hari terakhirnya melihat Gama.

Desi berani mengambil resiko ini karena Ayahnya dipindah tugaskan ke luar kota dalam waktu lama yang membuat Desi terpukul karena tidak akan melihat wajah Gama kembali.

Makanya Desi nekat menorehkan kenangan yang tidak akan dapat dilupakannya tanpa tahu yang terjadi setelahnya.

Desi perlahan menyingkirkan lengan Gama yang memeluk pinggangnya erat untuk bangun tanpa berniat membangunkan Gama.

Ternyata Gama adalah orang yang sulit terbangun jika sudah tidur dengan lelap.

Pelan-pelan Desi memunguti pakaiannya dengan berjalan tertatih karena merasakan perih di pangkal pahanya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah beberapa lama di dalam kamar mandi dan sudah berpakaian rapi , Desi keluar dari kamar mandi dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.

Desi beranjak menuju Gama yang sedang tertidur pulas lalu mengusap sayang rambut tebal pria itu.

"selamat tinggal kak.. Aku senang kakak jadi yang pertama menyentuhku. Aku berharap kebahagiaan buat kakak. Apapun itu.." ucap Desi parau sambil menitikkan air mata pedih.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Desi berbalik untuk pergi tanpa sanggup menatap kearah Gama lagi.

Desi pergi, membawa benih yang tanpa sengaja berkembang di rahimnya.

Anggara Gamalio..

*Flashback Off*

"mama!!"

"eh.. Apa sayang?" tanyaku pada Gara yang ternyata sudah berada di depanku ini.

"mama dipandil oma. dali tadi Gala pandil-pandil mama, tapi mamanya nggak dengel"

Aku melihat Gara memanyunkan bibirnya lucu yang membuatku gemas berkali-kali.

Anggara Gamalio..

Adalah kesalahanku dimasa remaja .

Namun anehnya aku tidak menyesal sama sekali atas kehadirannya, malah aku sangat menyayangi dan mencintainya.

Mungkin yang aku sesalkan sekarang, karena caranya hadir di dunia ini karena aku tidak berfikir panjang semasa remaja.

Anakku sempat ditolak Ayahku dan menganggap kalau dirinya adalah aib.

Gara..

Namun karena perjuangan Ibuku untuk meyakinkan Ayah, akhirnya ayah menerima cucunya.

Bahkan Ayah sangat menyayangi Gara, begitupun kakak dan adikku.

Gara adalah pelengkap keluarga kami, karena kebetulan ketiga anak ayah berjenis kelamin perempuan.

Ayah benar-benar memanjakan Gara dan aku sangat bersyukur karena Ayah akhirnya menerima Gara walaupun masih terlihat dimata ayah kalau ayah kecewa padaku.

Anaknya yang dia bilang paling penurut malah membuat aib dalam keluarga.

Namun, karena kasih sayang Ibu padaku Ayah bisa luluh dan menerimaku kembali ke dalam keluarga ini.

Ayah sudah tidak mendesakku lagi untuk mengatakan siapa ayah dari anakku.

"Bu, ibu manggil Desi?"

"itu ada kurir yang mau ambil barang katanya"

"oh.. Iya sebentar bu, Desi ambil di kamar"

Aku melangkahkan kaki menuju kamarku untuk mengambil beberapa paket yang sudah aku packing dan sudah aku masukkan kedalam plastik besar.

Alhamdulillah usahaku berjualan online yang sudah berjalan selama dua tahun ini semakin pesat.

Sehingga aku tidak lagi merepotkan kedua orangtua ku untuk biaya kuliah dan biaya Anggara.

Walaupun kini aku masih tinggal dengan orangtuaku.

Sebenarnya aku bisa menyewa rumah, namun dengan keras Ayah menolak karena tidak ingin kecolongan lagi.

Ayah takut aku akan kembali melakukan kesalahan yang sama.

Dan akupun pasrah dan memakluminya karena aku pernah mengecewakannya sekali.

Dan aku tidak ingin membantah yang akan semakin membuat Ayah kecewa.

"ini bang, coba dihitung. Kalau gak salah ada 15 paket" ucapku sambil menyerahkan dua plastik besar yang berisi pesanan para customer ku itu.

Sementara kurir ekspedisi langgananku ini terbengong melihat bagian dadaku yang setengah terekspos.

Lelaki sama saja dan aku sudah biasa dengan tatapan seperti ini.

Aku sengaja memakai baju seksi kurang bahan.

Aku memakainya bukan untuk menarik perhatian para pria, tapi aku memakainya agar tidak ada lelaki yang mendekatiku karena pasti mereka menganggap aku wanita murahan.

Apalagi sebagian besar masyarakat kita masih sering menilai orang dari penampilan mereka.

Dan.. Ya.. Aku memanfaatkan itu.

Aku memakainya untuk tameng agar mereka semua mengira kalau aku adalah simpanan pengusaha tua bau tanah.

Sehingga setiap kali mereka ingin mengajakku jalan, aku bisa menolak dengan mudah karena mereka mengira aku sudah ada janji dengan om-om dan semacamnya.

Aku menikmati itu, walaupun Ibu ku kurang setuju dengan apa yang dilakukan anaknya.

Tapi aku bersikeras dan akhirnya Ibu hanya geleng-geleng kepala tanpa tahu harus bagaimana lagi memberitahu ku.

Sedangkan Ayah? Ayahku sepertinya tidak peduli, yang penting aku tidak melakukan kesalahan yang sama dan pulang selalu tepat waktu.

"bang.. Udah puas liatinnya? Sekarang hitung paket saya.Awas ya jangan sampai telat!" ucapku jutek menyadarkan si kurir mesum itu.

"e.. Eh.. Maaf Mbak Des.. Ini saya mau hitung" ku lihat kurir itu menggaruk tengkuknya gugup dan setelahnya melaksanakan tugasnya.

Setelah semua selesai aku kembali masuk rumah sambil menggerutu.

"dasar mata keranjang. Mata jelalatan kemana-mana, seenaknya mandang-mandang tubuh gw! "

"itu kan salah kamu yang pakai baju anak TK. Jangan salahkan mata lelaki yang melihat, tapi salahkan cara berpakaian mu yang mengundang" ceramah ibuku menimpali gerutuanku yang hanya aku anggap angin lalu.

"Gara!!" panggilku pada anak laki-laki tampanku yang sedang asyik bermain robot-robotannya. 

"apa mama??" balas Gara menengadahkan wajahnya lucu.

Selalu seperti ini, Aku tak perlu harus memanggil Gara berkali-kali dia akan langsung menjawab panggilanku.

How sweet my boy..

"kita nonton spongebob yuk.."

"ayo!!!ayo!!!"ucap Gara yang langsung berlari kearahku yang hanya menggunakan tank top tali spaghetti serta celana pendek jauh diatas lutut.

Aku menggandeng tangan Gara yang semangat menuju kamar kami.

Sementara dari sudut mata kulihat Ibu menghela napas pasrah karena aku kembali mengabaikan nasehatnya.

Maafkan anakmu ini Ibu..

Ini hanya bentuk pertahanan diriku dari pria-pria hidung belang itu walaupun menurut Ibu caranya salah..

*********

Nix∆hm∆di
Nix∆hm∆di Saya hanyalah blogger pemula yang ingin sukses didunia blogging

Post a Comment for "Desi Bagian 1"